Bekerja, Berkarir dan Pencarian Jati Diri

Sepuluh tahun yang lalu tepat pada bulan Februari 2020 ini, karir yang saya jalani telah mencapai usia 10 tahun. Sebuah usia karir yang cukup panjang saya rasa untuk sebuah karir yang tidak direncanakan dan tidak diinginkan.

Tulisan kali ini saya ingin bercerita ringan saja. Refleksi momen 10 tahun saya beralih profesi dalam karir.

Semua berawal dari ketidaktahuan

Mengenang sepuluh tahun yang lalu, saya bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penelitian. Adapun profesi yang saya kerjakan saat itu adalah peneliti. Di sela waktu senggang saya pun menjadi dosen honorer di sebuah universitas swasta.

Dua tahun berlalu saya menjalani profesi tersebut, saya menyadari ada sesuatu hal yang saya inginkan yang tidak dapat saya lakukan secara maksimal di posisi saya saat itu yaitu bertemu dan berkomunikasi dengan banyak orang.

Pada saat itu saya lebih tertutup, cenderung menghindari untuk berkomunikasi dengan banyak orang, apalagi berbeda pendapat. Kesibukan sehari-hari dihabiskan bersama benda benda mati dan larut di dunianya sendiri.

Pergolakan jati diri

Setelah beberapa bulan bergelut dengan pertanyaan didiri kedepan mau bekerja atau berkarir seperti apa, akhirnya pada bulan Februari 2010 saya memutuskan untuk melamar pekerjaan yang berbeda sama sekali dengan yang sebelumnya. Jika di pekerjaan sebelumnya porsi komunikasi dan bertemu dengan orang cukup kecil, di pekerjaan baru ini, kemampuan dan keterampilan berkomunikasi menjadi dominan.

Setelah bekerja 2 tahun sebagai peneliti, akhirnya saya memutuskan untuk beralih profesi ke bidang manajemen proyek (project management).

Memulai lembaran baru dengan jati diri baru

Tanggal 14 Februari 2010, saya pun memulai menjalani profesi baru di bidang Project Management di sebuah perusahaan multinasional.

Pada saat memulai, saya bertekad membuka sekat dan hambatan komunikasi yang saya miliki. Saya mencoba mendobrak ketidaknyaman untuk berbicara atau berinteraksi dengan banyak orang. Saya memulai dari membiasakan diri menyapa dan atau memberikan salam di pagi hari kebanyak orang yang saya jumpai. Saya mulai mencoba untuk membiasakan berkenalan dengan orang-orang baru secara cepat.

Tembok Penghalang itu ternyata lebih tinggi

Beriring waktu, saya pun mulai terbiasa dengan profesi dan lingkungan baru tersebut. Dimana saya dikondisikan untuk bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang,

Waktu itu saya berpikir proses itu sudah dijalani dengan baik, hingga suatu hari saya disadarkan bahwa ada hal yang masih perlu saya pelajari. Saya disadarkan dengan keras dengan hampir berkelahi dengan sesama rekan. Setelah berdiskusi dan mendengar dari rekan kerja yang telah senior, tenyata ada sesuatu yang saya lupa.

Dengan perubahan karir yang saya pilih, artinya saya harus memulai sesuatunya hampir dari nol. Hal ini pula yang memacu saya untuk belajar dan berusaha keras untuk mencapai dan menguasai sesuatunya dengan cepat. Rupanya hal ini yang menjadi sandungan pertama di karir saya.

Untuk sebuah individu atau personal, dengan kecepatan proses belajar yang dimiliki saat itu, atasan merasa senang dan terbantu. Akan tetapi secara team, saya ternyata masih bersifat individualis.

Saran dari seorang teman yang bijak adalah menghilangkan egosentris dan keinginan untuk berkarir individualis dan mulai berpikir secara kolektif atau secara team jika ingin stabil dan karir terus bertumbuh dan naik.

Selain itu secara alami jika ada pergantian dan diperlukan jenjang untuk naik ke atas, kita pada akhirnya harus mengandalkan dan mempercayakan pada rekan sekitar kita yang menjadi team.

Rejeki sudah ada yang mengatur, dengan memberikan atau berbagi pengetahuan ke rekan kerja, itu tidak akan mengurangi apa yang kita tahu sedikit pun, bahkan malah bertambah.

Terus belajar dan memperbaiki diri

Saran dari teman tersebut saya renungi, dan saya kembali dan tetap belajar mengkoreksi diri lagi untuk jadi lebik baik lagi.

Benar kata orang bahwa kawan dan sahabat sejati itu adalah yang menujukkan kesalahan dan kelemahanmu, bukan seseorang yang terus menerus menyanjungmu.

Tulisan terkait yang mungkin akan anda sukai:

Nasihat yang paling baik

Nasihat yang paling baik adalah nasihat yang dilakukan dan ditunjukkan. Itu pun yang terjadi dengan nasihat dari kawan yang bijak tersebut.

Sepuluh tahun yang lalu ia di posisi terpuruk dengan harta yang hampir disita semua, saat ini ia sudah berada di posisi direktur sebuah perusahaan multinasional asal Amerika Serikat.

Bagaimana dengan saya yang mengikuti sarannya? Alhamdulillah, saya terbawa mengikuti jejaknya bekerja satu team bersamanya. Jika saya pikirkan kembali, saya tidak menyangka bahwa perjalanan saya ini harus sejauh ini. Tersesat? Let’s get lost… tapi ingat, selalu belajar dan lakukan yang terbaik. Do you best and God will do the rest.

Ini semua berawal dari sebuah keinginan “berubah menjadi lebih baik“.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.