I La Galigo, Naskah sastra terbesar di dunia dalam versi digitalnya Universitas Leiden

Anging mammiri ku pasang, Pitujui tontonganna. Tusarroa takka luppa… ( Penggalan dari lirik Angin Mamiri )

Kali ini penulis mengajak anda berlayar ke tempat angin mamiri, Sulawesi Selatan. Bukan untuk membahas lagu angin mamiri atau Pantai Losari yang terkenal, tetapi membahas tentang peninggalan kebudayaan sastra suku Bugis. Tak tanggung-tanggung, naskah sastra ini diakui oleh UNESCO sebagai naskah dengan cerita terpanjang di dunia. Dari tanah Bugis, Sulawesi Selatan, dikenal sastera I La Galigo.[1] Naskah ini ditulis dengan aksara lontara.

I La Galigo, apa itu?

I La Galigo merupakan sekumpulan puisi, yang dibuat dengan rima lima, dengan mengandung kata-kata yang khusus. Naskah ini dipercaya berasal dari kebudayaan Bugis, asal muasal dari kerajaan Luwuk di Sulawesi Selatan. Ini berasal dari sekitar abad ke 14.

I La Galigo disebut-sebut adalah salah satu naskah (manuscript) dari kebudayaan Bugis, yang menjadi kisah epic terpanjang di dunia.

Apa isi dari naskah I La Galigo?

I La Galigo terdiri dari 12 volume. Pada tahun 2011, UNESCO mengakui naskah ini sebagai karya sastra terbesar di dunia, yang diperkirakan mengandung 6.000 halaman. Meskipun begitu, 12 volume ini hanyalah meliputi sekitar satu pertiga dari seluruh cerita yang ada.[2]

Dimanakah Naskah I La Galigo disimpan?

Sampai sekarang, naskah I La Galigo tersimpan di Universitas Leiden, Belanda; terdaftar sebagai manuscript NBG Boeg 188. Universitas Leiden merupakan salah satu universitas yang banyak menyimpan dokumen sejarah kebudayaan Nusantara. Dari Mulai kebudayaan Bali, Bugis, Jawa, Sunda, sampai Batak.

Kampus Universitas Leiden (Sumber : migrationlab)

Para peneliti di Universitas Leiden telah membuat versi digital dari manuscript ini, kita pun dapat mengaksesnya di halaman koleksi digital Universtas Leiden.

Tampilan Naskah I La Galigo versi Digital (Sumber: Universitas Leiden)

Seperti apakah Cerita I La Galigo?

Nama I La Galigo begitu terkenal, apalagi jika anda berkunjung ke Makassar Sulawesi Selatan. Namun tidak banyak yang mengetahui apa sebenarnya cerita I La Galigo itu sendiri. Pemerintah Indonesia pun tampaknya kurang mensosialisasikan karya sastera ini. Padalah ini kisah epic lebih besar dibandingkan kisah Mahabarata sekalipun.

Berikut ada 12 bagian kisah I La Galigo yang dikutip dari sumber digital Universitas Leiden. Jika ada ingin melihat kisah aslinya versi digital, silahkan klik judul bagiannya.

I la Galigo (Bagian 1)

Asal mula Dunia Tengah. Batara Guru turun dari surga dan datang ke tanah Luwuk. Wé Nyiliq Timoq bangkit dari neraka. Mereka menikah dan Wé Nyiliq Timoq melahirkan Batara Lattuq, yang harus menjalani berbagai macam perayaan meriah seperti duduk di ayunan. Awal dari dunia Tompoq Tikkaq. La Urung Mpessi turun dari surga, I Pada Uleng bangkit dari dunia bawah, mereka menikah satu sama lain dan mereka mati pada hari yang sama. Dua putri mereka di bumi, Wé Adiluwuq dan Wé Opu Sengngeng akhirnya diusir dari istana dan dari kerajaan.

I la Galigo (Bagian 2)

Kedua gadis kembali ke Tompoq Tikkaq dan menemukan rumah yang baik dengan Wé Temmamala. Batara Guru naik ke surga untuk meminta nasihat kepada ayahnya yang saleh tentang istri yang cocok untuk putranya. Batara Lattuq dikirim ke Tompoq Tikkaq dan tak lama setelah dia menikahi Wé Opu Sengngeng. Adiknya Wé Adiluwuq menikahi keponakan Batara Lattuq. Batara Lattuq dan istri mudanya kembali ke Luwuq untuk mengunjungi orang tuanya. Sebagai hasil dari doa saleh dari orangtua Batara Lattuq, Wé Opu Sengngeng hamil. Karena kehamilannya, ia sangat membutuhkan semua jenis buah-buahan dan makanan lezat.

I la Galigo (Bagian 3)

Burung-burung dikirim untuk membawa makanan lezat yang diinginkan ke istana. Wé Opu Sengngeng melahirkan anak kembar, laki-laki (Sawérigading) dan seorang gadis (Wé Tenriabéng). Keduanya menjalani upacara yang sama seperti yang dijelaskan dalam bagian 1. Bersama dengan istrinya, Batara Guru kembali ke surga untuk tinggal di sana selamanya. Cucu lelakinya, Sawérigading, juga naik ke surga tetapi kembali untuk menikahi keponakannya, Wé Panangngareng. Sawérigading bertemu dengan Sang Pencipta di surga.

I la Galigo (Bagian 4)

Ilustrasi Peta Hindia Belanda (Sumber : Universitas Leiden)

Sawérigading menikahi semua keponakannya kecuali dua. Dia kemudian mengunjungi semua pengikut di Luwuk dan melakukan perjalanan lebih jauh. Dia mencapai Tompoq Tikkaq, di mana semua orang berduka atas diusirnya putri Wé Tenrirawé, yang ditakuti akan melakukan pernikahan sedarah dengan saudara kembarnya Palawagauq. Perjalanan lain dari Sawérigading dijelaskan, bahkan yang di luar negeri, antara lain ke Maluku untuk menyaksikan tato Bupati Maloku. Di Malatunrung ia berselingkuh dengan istri La Tenroaji.

I la Galigo (Bagian 5)

Sawérigading melanjutkan perjalanannya dan melewati banyak tempat, seperti Kelling, Tessililu, dan Taranati, dan akhirnya ia mencapai palojang, lubang yang dalam yang terhubung ke dunia bawah. Linrung Talaga tampaknya bertemu dengan Sawérigading. Yang terakhir turun ke dunia bawah, di mana ia bertemu Wé Pinrakati, putri penguasa Malaka. Dia ingin menikahinya tetapi menikahi orang mati tidak mungkin. Sawérigading kembali ke Luwuq. Namun tak lama setelah dia pergi untuk perjalanan lain bersama istrinya, Wé Panangngareng mengendarai burung Marempoba bersama.

I la Galigo (Bagian 6)

Ilustrasi Orang Suku Bugis Lama (Sumber: Wikipedia)

Sementara makam La Urung Mpessi dan Wé Pada Uleng diperbarui, Sawérigading berangkat mengunjungi tunangannya Welléq Ri Cina, putri I La Galigo To Kelling. Dia mencapai Bima dan datang ke pohon pao jengki di tengah laut, dengan akarnya mencapai ke dunia bawah dan yang tumbuh hingga ke surga. Di pusat bumi, Sawérigading berperang melawan Lettéq Warani, tidak menyadari fakta bahwa yang terakhir adalah saudara dari kakeknya sendiri, Batara Guru. Perang berakhir ketika dia mengetahui identitas sebenarnya dari lawannya. Selanjutnya, Sawérigading berperang melawan Dettia Pajung, di tanah di Barat pusat bumi, dan mengalahkannya. Di dunia bawah Sawérigading pindah ke Pamasareng untuk akhirnya menjemput tunangannya.

I la Galigo (Bagian 7)

Setibanya di Pamasareng, Sawérigading bertarung dengan La Daéng Lebbiq yang terbunuh, dan Pamasareng ditaklukkan. Tapi Welléq Ri Cina, putri I La Galigo To Kelling, masih belum mau kembali ke bumi. Oleh karena itu, Sawérigading melanjutkan perjalanannya dengan tujuan untuk mengunjungi semua negeri yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Akhirnya, dia kembali ke Luwuq, di mana dia jatuh cinta dengan saudara kembarnya, Wé Tenriabéng

I la Galigo (Bagian 8)

Wé Tenriabéng meyakinkan saudara kembarnya bahwa ia sebaiknya memohon I Wé Cudaiq, putri raja Cina dan cucu La Urung Mpessi dan Wé Pada Uleng. Segera setelah pohon wélenréng ditebang dan sebuah kapal dibangun, ia berangkat ke tanah Cina, bertempur dalam banyak pertempuran. Tiga hari kemudian saudara kembarnya naik ke surga.

I la Galigo (Bagian 9)

Ilustrasi Kapal Pinisi dari Suku Bugis (Sumber: Steemit)

Setibanya di Cina setelah beberapa petualangan lagi, Sawérigading menyamar sebagai pedagang dan menggunakan kulit wajah raja Oro, La Pabokori, sebagai topeng untuk memasuki istana La Tanété. Dia mampu mencuri pandangan sekilas tentang I Wé Cudaiq, putri La Sattung Mpugiq, raja Cina. Dia mengusulkan, dan dalam tiga bulan berikutnya, mas kawin diberikan.

I la Galigo (Bagian 10)

Ketika akhirnya mas kawin diberikan sepenuhnya, I Wé Cudaiq menolak untuk menjadi istri Sawérigading. Mas kawin dikembalikan, tetapi hanya setelah satu hari orang-orang Cina mengklaim bahwa seluruh mahar telah diberikan kembali. Sawérigading memulai perang melawan Cina dan membawa Cina di bawah kendalinya. Dia kemudian mengubah dirinya menjadi semilir angin dan mengunjungi I Wé Cudaiq tanpa disadari. Saudara kembarnya, Wé Tenriabéng, mengirimkan tanah Malimongeng lengkap dengan istana dan taman ke bumi. Sawérigading menikahi I Wé Cimpau, ratu Lémpang. Tiga bulan kemudian, dia dan saya Wé Cudaiq berbaikan dan Sawérigading mengunjungi dia setiap malam selama beberapa bulan.

I La Galigo (Bagian 11)

Ketika I Wé Cudaiq hamil Sawérigading tak lagi mengunjunginya. I Wé Cudaiq melahirkan I La Galigo dan I Wé Cimpau dari seorang putri bernama Wé Makawaru Daéng Paraga. I La Galigo dikeluarkan dari istana dan dikirim ke Mario, karena ibunya tidak ingin tinggal bersamanya di bawah satu atap. Sawérigading membawa I La Galigo kembali ke Cina. Pernikahannya dengan I Wé Cudaiq terungkap dan mereka semua tinggal bersama di istana La Tanété. Upaya I Wé Cudaiq untuk membunuh I Wé Cimpau gagal.

I LA Galigo (Bagian 12)

I Wé Cudaiq melahirkan dua putri lagi, Wé Tenribalobo dan Wé Tenridio; yang terakhir dimasuki oleh roh yang lebih tinggi dan kemudian dijadikan bhikku. I La Galigo pergi ke Luwuq untuk mendapatkan peralatan bhikku tertentu untuknya. Di Luwuk dia menikahi Rajeng Risompa. Ketika dia kembali ke Cina, sebuah rumah bhikku kecil dibangun untuk menghormati Wé Tenridio.


Setelah merangkum tentang I La Galigo, sekarang rasanya saya semakin bangga dengan bangsa ini dan ingin punya kesempatan japa japa ka Belanda, tempat dimana naskah I La Galigo asli disimpan, yaitu Universitas Leiden. Dimana naskah I La Galigo dirawat dan di-digitalkan.

JIka terlaksana, saya posting kembali foto bersama dengan naskah aslinya.

“Kualleangi Tallanga Natowalia”

Source & Credit to:

[1] UNESCO

[2] Leiden University

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.